Monday, April 7, 2008

Hari Raya Chin Min 36 tahun Yang Lalu

Keterangan foto dari kiri ke kanan:
1. Barisan belakang -berdiri:
-1. Wanita muda yang tak diketahui namanya, 2. Mok Jiu Cai ( Suk Pho Ajiu -istri Liu Kang Sang), 3. Liu Na Lu ( Jie Lu ), 4. Mama Liu Na Nie, 5. Papa Phan Men Can.
***
2. Barisan depan -duduk :
-1. Phan Cin Liong ( Hans ), 2. Phan Ay We ( Weariesty), 3. Phan Ay Ling ( Yulita ), 4. Phan Cin Loy ( Beni ), 5.Liu Ay Lief, 6. Liu Ay Fie, 7. Liu Hian Nen ( berdiri- baju putih )
***
Mungkin ini adalah perayaan Ching Ming ( Chin Min : dialek Hakka Bangka ) pada tahun 1971 atau 1972 ) di makam Pho-pho Miau A Nyoen. Tak ada catatan pasti. Yang memungkinkan untuk melakukan dugaan sekitar tahun tersebut hanyalah postur dan tinggi tubuh kami. Sepertinya umurku berada pada usia 4 tahun. Melihat postur Ay We yang masih kecil besar kemungkinan baru berusia menjelang 3 tahun. Hanya makam inilah yang menghubungkan kami dengan beliau. Seorang wanita yang tak pernah kami kenal yang telah melahirkan Mama Liu Na Nie , Liu Hian Cin, Liu Hian Kin dan Liu Ngian-Ngian ( Muk Choi )
***
Papa dan Mama masih nampak muda. Ini adalah foto yang teramat langkah dan sangat berharga. melihat latar belakang tempat kami berfoto suasana 35 tahun yang lalu sudah teramat berubah. Sungai masih terlihat dari makam ini. Sementara pohon uba' masih kecil dan baru tumbuh. Dan di sebelah kiri Papa terlihat bangunan pabrik Kung-Kung Phan Bong Sin yang menjadi tempat cetak bata untuk disuplai ke pabrik utama dibelakang rumah Akung.
***
Makam ini kini sudah beberapa tahun yang lalu di pugar oleh Khiu Cin ( Liu Hian Cin -Haji Solihin ). Sewaktu pulang bulan February yang lalu , aku sempat mengunjungi makam ini dari kebun sayur Chai A Sen . Kini makam ini sudah tidak terpencil seperti berpuluh tahun yang lalu. Bahkan sudah menempel dekat kebun sayur sehingga sangat gampang akses ke sana dari rumah Ku Chong Chai A Sen. Dulu mesti lewat rumah Liu Kang Chiung ( Suk Kung Bong Chiung ).
***
Makam ini sewaktu kecil kami namakan makam Pho-pho jambu selit ( jambu monyet ) karena di depan makam ini tumbuh beberapa rumpun pohon jambu monyet yang menjadi tempat berteduh sewaktu kami sembayang Ceng beng. Tapi kini kumpulan kluster pohon-pohon itu sudah ditebangi mungkin oleh Chai A Sen.
***
Berpuluh tahun yang lalu lokasi di belakang makam ini pernah menjadi daerah berpenghuni yang ramai dan hidup karena lokasi peternakan dan pelabuhan kecil milik yayasan katolik yang di huni oleh Linus dkk. Temnpat ini dulu terdapat kebon binatang kecil yang memiliki banyak piaran hewan yang dulu tak pernah kami kenal. Hewan aneh mirip bebek besar yang kemudian kami kenal sebagai ayam kalkun, lalu ada peternakan kelinci yang beranak-pinak banyak sekali. Yang terbesar adalah peternakan ayam broiler. Dan banyak lagi binatang piaran yang dulu adalah binatang yang sangat jarang kami lihat
***
Sebuah pelabuhan kecil tempat berlabuh kapal-kapal penangkap ikan sebuah yayasan katolik yang dikelolah dan di urus dengan sangat sangat makmur oleh sebuah komunitas suku Flores, yang hidup dengan sangat harmonis dengan masyarakat Tionghoa Jalan Laut. Terakhir rumah panjang bekas pelabuhan kecil itu di tempati oleh Yusuf yang telah menikah dengan perempuan Tionghoa setempat dan kini mereka telah kembali ke Pulau Flores sekeluarga.
***
Lokasi rumah bedeng itu terletak di belakang makam searah pohon kelapa yang paling pinggir.
***
Di belakang kami -sekitar 3 meter kebelakang -adalah lokasi makam Liu Kang Sang ( Kim Sang ) ayah dari Liu Hian Nen . Dan juga terdapat makam Liu Jau Khie. Our Great grandfather. Kakek buyut kami dari silsilah Marga Liu. Seseorang yang sangat penting bagi keluarga Liu tapi tak pernah kami kenal wajahnya. Sampai hari ini tak ada satupun fotonya yang selamat. Sayang sekali.
***
Yang berdiri di depan Papa adalah Liu Hian Nen, mungkin sekitar umur 11-12 tahun. Sudah nampak dewasa. Sehingga hari Chin Min juga adalah sebuah hari di mana kerabat jauh berkumpul dan reuni walaupun di lakukan di antara makam-makam. Sebuah pertemuaan keluarga yang aneh memang. Tapi bagi suku Hakka, Chin Min adalah hari yang terpenting setelah Ko Ngian.
***
Jakarta, 07 April 2008.

0 comments: