Wednesday, January 28, 2009

Shiang Liu -Marga Liu-

Spanduk Marga Liu ini aku potret di Citraland imlek 2560 hari pertama. Di mall ini di adakan sebuah perhelatan de ngan tema perjalanan budaya " A Cultural Journey The Chinese Heritage in Indonesia " . Berbagai marga di pamerkan disini dengan penjelasan yang lumayan bagus. Marga yang dipamerkan di mall ini adalah 10 marga besar Tionghoa yang ada di dunia. Liu, Wen ( Bun), Wang ( Bong ), Jiang, Zhang, Situ, Lie, Lim, Tan ( Chin ), Liauw, Chen. Ada replika sebuah kapal cina kuno. Meriah dan semarak. Diskusi budaya oleh Remysilado. Wayang poteihi.

Thursday, July 17, 2008

Makam Liu Jau Khie-Kakek Buyut Marga Liu

Ketika aku berkunjung awal July 2008 yang lalu, makam ini nampak tak terurus dan mulai longsor. Dulu ketika kecil setiap kali pada bulan sembayang kubur Ching Ming ( Tionghoa Bangka mengucapkan dengan Chin Min ), kali selalu diberitahukan oleh Mama bahwa ini adalah makam Athai laki-laki, waktu itu aku belum tahu dan tak pernah tanya namanya. Makam ini dulu adalah makam yang paling besar dalam ukurannya. Berada di bawah naungan sebuah pohon yang tinggi dan lebat sekali semacam pohon jambu hutan.
***
Sementara di sebelah kanan makam inilah terdapat makam Liu Kang Sang. Makam ayah dan anak ini menghadap barat , atau menghadap tanah lama mereka. Tanah makam dan juga seluruh tanah yang ada di depan makam ini dulu adalah tanah keluarga besar Liu Jau Khie. Di sinilah keluarga Liu Jau Khie hidup dan menjadi cika bakal salah satu keturunan penghuni awal Kampung Jalan laut.
***
Ketika perusahaan tambang timah yang masih di jalankan oleh Belanda selepas perang kemerdekaan masih beroperasi, maka terjadi bedol desa besar-besaran ke tanah baru yang kini menjadi kampung baru, maka tanah-tanah di kampung lama ini ( Lo Kai Hong ) di beli oleh tambang timah untuk di keruk . Sungai di depan rumah Chai A Sen adalah hasil dari pengerukan jaman itu yang merubah peta kampung menjadi sungai dan rawa-rawa.
***
Dulu kampung ini adalah sebuah kampung yang berada pada posisi rendah di ujung timur Sungailiat. Setiap tahun kampung ini , yang dulu nya di tumbuhi oleh pohon bakau dan pohon-pohon rawa-rawa lainya selalu mengalami banjir tiap tahun menjelang Ko Ngian. Banjir ini akibat langsung dari limpahan air kerukan dari daerah Pemali yang menjadi pusat terbesar pengerukan timah di Sungailiat. Aliran buangan air timah, dan juga sungai di Pemali mengalir melalui Aliran sungai Simpang Belinyu menuju ke Kampung Pasir lalu menuju bebas ke sungai yang kini menjadi aliran Ahi Jer-Jer. Dan menuju laut lepas. Setelah pengerukan oleh Belanda dan bedol desa tahun 1950-an , maka aliran air berubah arah , sekarang aliran laut masuk dan menggenagi sungai bercampur dengan aliran sungai simpang Belinyu . Kini aliran sungai ini nampak mulai kering dan berlumpur.
***
Kembali ke tanah keluarga Liu , pada saat masa pengerukan sedang berlangsung, deposit timah di sekitar tanah ini memperlihatkan deposit yang menurun sehingga nasib tanah Liu Jau Khie dan beberapa tanah di sekitarnya tak mengalami nasib yang sama dengan tanah keluarga Phan A Kim, kakek buyut keluarga Phan, Kakek Papa Phan Men Tjan yang juga menjadi sungai akibat proyek tambang timah jaman itu. Kini lokasi tanah keluarga Phan A Kim tak lagi berbekas karena telah menjadi sungai . Lokasinya kira-kira berada di belakang pabrik bata Hon Long mengarah ke sungai gudang garam.
***
Tambang timah memutuskan mengalihkan penambangan offshore sejak saat itu sampai sekarang. Dan proyek besar pengrukan timah yang sampai mengakibatkan bedol desa seperti ini sudah tak mungkin lgi terjadi. Kasihan kampung ini. Begitu banyak perubahan yang terjadi. Merubah peta kampung yang generasi kini hampir tak mengenal sama sekali sejarah kampung mereka. Tak ada catatan , hanya ingat yang kabur-kabur yang kini tertinggal di kepala para orang tua kampung yang mungkin juga akan hilang dan buyar bila tak kucatat sedikit demi sedikit.
***
Kini daerah sepanjang sungai yang dulu adalah kampung lama asal-usul keluarga Liu dan juga keluarga Phan , telah berubah jadi rawa-rawa dan sungai yang airnya pada bulan july tak terlalu tinggi dan agak mengering. Pemandangan didepannya yaitu daratan yang menjadi ujung pasar basa kota Sungailiat yang menuju Sam Ho ( Nang Nung sekarang ) dipenuhi oleh penghuni liar dari daerah Buton dan Makasar yang menajdi pelaut. Dan tanah-tanah disana juga telah berpindah tangan menjadi incaran para investor walet karena sepanjang sungai dan alirannya menjadi area dan alur burung walet yang bernilai jual tinggi. Sehingga tanah keluarga Liu Jau Khie dan termasuk are maka keluarga ini kini menjadi incaran para investor kaya di kota Sungailiat.
***
Aku tidak bisa menduga bagaimana nasib tanah makam keluarga ini nanti bila tanah yang sekarang milik cucu Liu jau Khie, yaitu Liu Hian Kho dan Liu Hian Nen ini di jual. Sementara di ujung tanah Liu Hian Kho terdapat tanah Papa seluas kira-kira 2500-3000 meter yang berbatasan dengan tanah Linus di sebelah timur . Posisi tanah bekas pabrik bata Papa ini terjepit sehingga menjadi sulit di jual dan memiliki nilai tawar rendah. Dulu pernah di tawar oleh Ai Cai Sin, salah satu investor walet terkaya di Sungailiat , seharga 50 juta tapi Papa tak mau jual. Aku katakan kepada Papa tanah ini tak boleh dijual. Aku melihat peluang lain dengan posisinya yang menghadap sungai Kong Heuw -muara. Tapi Chai A Sen nampaknya sangat bersemangat membantu Papa menjual tanah ini. Awal bulan July yang lalu aku bersama Chai A Sen meninjau lokasi tanah ini.
***

Makam Miau A Nyoen-Our Grandmother

Makam Pho-Pho Miau A Nyoen ini di pugar oleh Liu Hian Cin ( Haji Solihin Pagar Alam ) sekitar tahun 2006. Dulu makam ini terbuat dari dari semen kasar biasa dan kini telah nampak lebih layak di tengah-tengah hutan dan kebun sayur Chai A Sen .
***
Tanah makam ini masuk dalam tanah keluarga Liu Jau Khie yang kini di miliki oleh anak laki-laki Liu Kang Sang ( Kim Sang ), yaitu Liu Hian Nen. Ada kabar bahwa tanah ini sedang dalam proses penjualan oleh istri Liu Kang Sang , Suk pho Ajiu yang kini tinggal di Jakarta daerah Harapan Indah Bekasi. Tapi kabarnya Liu Hian Kho , anak Liu Sin Tong tak setuju dan akhirnya tanah ini tetap dlam status milik keluarga mereka. Ketika Aku pulang awal July lalu , masih tergantung papan pengumuman mengenai penjualan tanah ini yang berdampingan dengan tanah Chai A Sen di sebelah utara .
***
Makam ini hanya mencantumkan nama anak-anak Miau A Nyoen.Urutan yang paling atau adalah Chin Muk San dan Chin Lip Hon. Mereka berdua adalah putra dari suami pertama Mau A Yoen sebelum menikah dengan Liu Kang Jit. Suami pertamanya yang bermarga Chin belum kuketahui namanya. Chin Muk San adalah laki-laki yang kuceritakan di posting terdahulu. Sementara Chin Lip Hon kami tak opernah bertemu. Dan baru kini juga aku tahu bahwa Chin Muk San memilik adik laki-laki.
***
Urutan selanjutnya adalah Liu Hian Cin ( Haji Solihin ), lalu Liu Hian Kin ( Khiu Ron ), Liu Ngian-Ngian ( Khiu Choi, anak tetaplah pelanjut darah yang sah walaupun telah di adopsi oleh keluarga lain, hubungan darah dan legalitas sosial tentang adopsi tak memiliki hubungan yang berpengaruh , anak adalah darah dan pelanjut trah . Lalu hal menarik mengenai Liu Ngian-Ngian adalah beliau lalu di adopsi juga oleh keluarga yang juga bermarga Chin, yang kemudian diberi nama Chin Muk Choi ) dan urutan yang terakhir adalah Liu Na Nie, anak perempuan nampaknya di masukkan dalam urutan terakhir walaupun Mama Liu Na Nie adalah anak pertama dari Liu Kang Jit. Tapi karena ini adalah makam Miau A Nyoen , maka Mama Liu Na Nie adalah anak ketiga dan anak perempuan satu-satunya dari Miau A Nyoen.
***